Mohamad Hartadi

Perempuan, 8 tahun

Kudus, Indonesia

SELAMAT DATANG DI BLOG PERJALANANKU, MY LIFE MY BLOG adalah blog yang menceritakan semua yang saya suka, Inspirasi, dan Motivasi.Selamat bergabung di blog saya, semoga bisa jadi motivasi dan inspirasi bagi anda yang membacanya Semoga Bermanfaat.

Visit My Blog :
=>e-designonline.blogspot.com
=>e-tutorial07.blogspot.com
=>myblogdesign07.blogspot.com
=>matahati09@gmail.com
::
Start
Deswita Alifia D™ Vivi
Shutdown

Navbar bawah

Search This Blog

Tampilkan postingan dengan label Kisah - Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah - Sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Juni 2016

Ini Beberapa Tahapan Pensyariatan Puasa pada Umat Nabi Muhammad SAW


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9_-IJ-qhf0dq6SLiWq5q9lUSxFqA6tG3q9rja0izShfjDtc5zY-_TrG-Effs_EgBhUfEVOzwr-1mIYV0loB8uNThnNoDqMK95qrVaZbeuVxEo6AbomZo-_vDveQjTNX2mH6wG2QkwkvQp/s640/bulan+ramadhan.jpg

PENSYARIATAN puasa pada umat Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam melalui beberapa tahapan:

1. Puasa 3 hari tiap bulan dan puasa Asyura sebagai kewajiban. Pada saat itu belum diwajibkan puasa di bulan Ramadhan.

2. Diwajibkan puasa Ramadhan bagi yang mampu dengan pilihan: boleh berpuasa atau tidak berpuasa tapi membayar fidyah.

3. Diwajibkan berpuasa Ramadhan bagi semua orang yang mampu. Tidak diberi pilihan lagi. Boleh makan dan minum sejak berbuka hingga tidur malam. Kalau sudah tidur malam atau sholat Isya’, maka tidak boleh lagi melakukan hal-hal yang dilarang di siang hari.

4. Diwajibkan berpuasa Ramadhan bagi semua orang yang mampu pada siang harinya. Sedangkan pada malam hari (dari terbenam matahari hingga menjelang terbit fajar) boleh melakukan hal-hal yang terlarang dilakukan di siang harinya.

(tahapan-tahapan ini didasarkan pada hadits Muadz bin Jabal yang diriwayatkan oleh Ahmad no 21107. Pada hadits Muadz tahapan puasa adalah 3 tahapan, namun yang ketiga dibagi lagi menjadi 2 tahapan, sehingga pada paparan di atas disebutkan 4 tahapan).

Pada saat diberlakukannya tahapan ke-3 di atas, terjadi beberapa peristiwa yang menunjukkan ketidakmampuan para Sahabat menerapkan puasa pada waktu itu. Pada waktu itu, bolehnya berbuka adalah hingga tidur malam atau sholat Isya. Kalau sudah tidur, atau tertidur di malam hari, setelah bangunnya tidak boleh lagi makan dan minum serta berhubungan suami istri, meski masih belum masuk fajar Subuh. Hingga turunlah ayat ke 187 dari surat al-Baqoroh ini.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjDrhwRVt5cokgXl47YWVjXEB1pvRGxwElfE6eArQLEfcf_u3sX1V42k4AUxDQH_HW1jhE01nuxVOlaEEJQ0toPMDCcMrzWuf0Z9pMuexAmuYOT1OOVKSJWtgGTh8eb7G8HBhfu09b9apIA/s1600/PUASA+2.jpg

Dari al-Bara’ radhiyallahu anhu beliau berkata: Dulu para Sahabat (Nabi) Muhammad shollallaahu alaihi wasallam jika berpuasa, kemudian datang waktu berbuka, kemudian tidur sebelum berbuka, tidak bisa makan di malam itu maupun pada siang (keesokan) harinya. Sesungguhnya Qoys bin Shirmah al-Anshary berpuasa kemudian datang waktu berbuka, ia mendatangi istrinya dan berkata: Apakah engkau memiliki makanan? Istrinya berkata: Tidak. Tapi aku akan mencarikan untukmu. Pada siang harinya Qoys bekerja (keras), hingga ia tertidur (menunggu datangnya istrinya). Kemudian istrinya datang. Ketika istrinya melihatnya (telah tertidur), istrinya berkata : kerugian bagimu. Keesokan harinya ketika tiba pertengahan siang, ia pingsan. Maka diceritakanlah hal itu kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam. Kemudian turunlah ayat : …<< dihalalkan bagi kalian berhubungan (badan) dengan istri kalian pada malam (bulan) puasa>>, maka bergembiralah para Sahabat dengan kegembiraan yang sangat. Dan turun pula ayat << makan dan minumlah hingga nampak jelas benang putih dari benang hitam >>(H.R al-Bukhari)

Setelah turunnya ayat  ke-187 dari surat al-Baqoroh, maka dihalalkan pada waktu malam bagi kaum muslimin melakukan segala hal yang membatalkan puasa di waktu siang seperti makan, minum, dan berhubungan suami istri.

Ayat tersebut menjelaskan bolehnya seseorang melakukan rofats pada malam hari bulan puasa terhadap istrinya.

Dihalalkan bagi kalian pada malam (bulan) puasa berbuat rofats kepada istri-istri kalian (Q.S alBaqoroh:187)

Az-Zujaj mendefinisikan rofats sebagai: segala sesuatu yang diinginkan oleh seorang laki-laki terhadap perempuan (Umdatul Qoori Syarh Shahih al-Bukhari 16/314).


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !
Read More --►

Sabtu, 11 Juni 2016

SAHABAT NABI SAW YANG MASIH HIDUP SAMPAI SEKARANG

Ketika Rasulullah keluar ke Syam membawa dagangan sayyidatunna Khadijah binti Khuwailid bersama budaknya Maisarah-pekerja Sayyidatuna Khadijah ra-utk berniaga,..Beliau pernah berteduh di bawah sebuah pohon.


Saat Beliau SAW berteduh di bawahnya, dahan dan ranting pohon ini bergerak menaungi beliau dari cahaya matahari..ketika matahari berada sedikit ke timur pohon itu sedikit beralih menutupi matahari dan ketika matahati bergerak ke barat pohon itupun beralih menutupi matahari yg condong ke barat hal itu disaksikan oleh






Seorang pendeta nasrani bernama Buhaira yg setelah melihat kejadian ini datang menemui Maisarah dan menunjukkan kepadanya pohon tempat berteduhnya Rasulullah itu dan berkata:

"Engkau lihat pemuda tampan yg bersamamu..pohon itu mengikuti arah kemana matahari demi melindungi pemuda itu..dia lah Nabi akhir jaman.."

Pohon ini terletak di tengah padang pasir Buqa'awiyya di negara Yordania..Dari segi geografis, ia dekat dgn kota Bosra di Syria ...Dalam sejarah, Rasulullah SAW 2 kali berdagang di Bosra

1. Ketika bersama pamannya Abu Thalib saat berumur 12 tahun dan bertemu pertama kali dgn Pendeta Buhaira dan tersiarlah tanda kerasulan beliau di belakang bahu seperti tercantum dalam kitab injil tentang tanda kerasulan Nabi akhir zaman (khataman al-anbiya) dan dahulu disekelilingnya masih ada beberapa pohon yg seperti itu

2. Kedua kalinya Rasulullah SAW ke Bosra membawa barang dagangan sayyidatina Khadijah...beberapa pohon yg lainnya telah mati..hanya pohon itu yg masih hidup di kala itu Rasulullah kembali berteduh di pohon itu

Menariknya..setelah dari tanah Tabuk sampai ke Bosra sejauh lebih 500km..kita tidak akan menemui pohon seperti itu yg hidup berada ditengah padang pasir gersang..lihatlah pohon itu masih hidup hingga sekarang... Sehingga diberi gelar "the only living sahabi" atau "sahabat Nabi yang masih hidup"

Lokasi pohon tersebut http://goo.gl/maps/4kvQN







Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !
Read More --►

Wahyu Soeparno Putro: Adzan Subuh Pengganggu Tidurnya


Wajahnya kerap muncul di televisi di Indonesia. Dia terbilang sukses membawakan sebuah acara bertemakan religi. Selama ini dia lebih dikenal dengan nama 'Indonesia'-nya, Wahyu Soeparno Putro.

Tak banyak yang mengetahui siapa nama asli, pria kelahiran Skotlandia pada 28 Juli 1963 ini. Meski terlahir di tanah Skotlandia, dia mengaku sejak kecil telah menjadi penganut Budha. Orangtuanya memberi nama, Dale Andrew Collins-Smith. Menghabiskan kulian di tanah Australia, Dale mengawali kisah hidupnya di Indonesia ketika bekerja di sebuah perusahaan kerajinan di Yogyakarta pada 1999.

Sebagai seorang yang terbiasa mandiri karena pada usia 20 tahun telah menjadi yatim-piatu, Dale harus menghadapi kehidupan dengan tradisi yang jauh berbeda dengan asal-usulnya. Seperti ketika dia harus mendengarkan suara adzan yang berkumandan setiap hari dari masjid yang letaknya berdekatan dengan tempat tinggalnya di kota gudeg itu.

Awalnya, dia begitu terganggu dengan suara adzan, khususnya Adzan Subuh. Seakan tak mau terganggu, adzan itu begitu mengusik kenyamanan tidurnya. Adzan itu seperti menggedor-gedor gendang telinganya. Selama tinggal di Skotlandia dan Australia, dia tak pernah mendapatkan situasi seperti itu.

Dale tinggal di rumah seorang warga Yogya bernama Soeparno. Ayah beranak lima yang bekerja sebagai satpam itu sudah menganggap Dale sebagai anaknya sehingga dibebaskan untuk tinggal dirumahnya. Karena setiap hari mendengarkan suara adzan Subuh itu, Dale kemudian menjadi terbiasa mendengarkannya. Bahkan, karena itu dia berubah menjadi kerap terbangun di pagi hari.





Tak hanya itu, setelah menetap cukup lama di rumah itu, Dale terbiasa bangun 5-10 menit lebih awal dari adzan Subuh. ''Ini yang membuat saya heran,'' katanya. ''Padahal sejak kecil saya tak pernah bisa bangun pagi, tapi di sana (Yogyakarta) saya mampu merubah pola hidup saya untuk bangun pagi.''

Suara adzan itu tampaknya menjad awal pertemuannya dengan Islam. Perlahan hidayah itu merasuk ke dalam jiwanya. Dia pun mulai bertanya-tanya tentang Islam. Diawali dengan pertanyaan sederhana seperti mengenai sholat dan puasa. Tanpa malu, dia menanyakan itu kepada teman-teman Muslim-nya. Di saat Ramadhan, Dale mulai ikut-ikutan berpuasa. ''Awalnya saya cuma ingin mengetahui saja seperti apa sih rasanya puasa,'' tuturnya. ''Tetapi setelah tahun ke dua atau ketiga di sana, puasa saya ternyata bisa full.

Rutinas bangun pagi sebelum sholat Subuh dan puasa Ramdhan yang mulai terbangun dalam dirinya ternyata memberikan perasaan tenang bagi dia. Perasaan itu menjalar terus dalam dirinya. ''Saat itu saya merasa seperti sudah sangat dekat saja dengan orang-orang di sekitar saya,'' katanya sambil mengaku pada fase tersebut dia sudah semakin fasih berbicara Indonesia.

Tak merasa cukup terjawab tentang Islam pada rekan sepergaulan, Dale kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada ketua pengurus masjid dekat tempatnya tinggal. Tapi sekali lagi, hasratnya untuk mengetahui Islam masih belum terpuaskan. Maka pada suatu ketika, bertemulah dia dengan seorang ustadz bernama Sigit. Ustadz ini masih berada satu kampung dengan tempat tinggalnya di kediaman Soeparno. ''Waktu saya ceritakan tentang pengalaman saya, dia malah berkata kepada saya,'Sepertinya malaikat mulai dekat dengan kamu','' kata Dale menirukan ucapan Pak Sigit.

Mendengar ucapan itu, Dale merasakan seperti ada yang meledak-ledak di dalam dirinya. ''Semuanya seperti jatuh ke tempatnya,'' kata dia menggambarkan situasi emosional dirinya ketika itu. ''Saat itu saya juga sudah bisa menangkap secara akal sehat tentang Islam,'' tambahnya. Ledakan yang ada di dalam diri itu kemudian membawa Dale terus menjalin hubungan dengan Pak Sigit. Dari sosok ustadz itu, dia mengaku mendapatkan sebuah buku tentang Islam dan muallaf. Dan pada saat itu pula, niatnya untuk mempelajari sholat kian menggelora.

Di saat dirinya merasa semakin menuju Islam, pria yang begitu berharap bisa menjadi warga negara Indonesia ini kemudian bertanya pada Soeparno. ''Saya merasa lucu karena sudah seperti merasa Muslim,'' kata dia kepada ayah angkatnya itu. ''Tetapi bagaimana caranya,'' sambung dia. Mendengar ucapan pria bule, Soeparno sangat terkejut. Lantas lelaki ini menyarankan agar Dale masuk Islam saja melalui bantuan Pak Sigit.

Tidak membutuhkan waktu lama, medio 1999, Dale Andrew Collins-Smith kemudian mengucapkan syahadat sekaligus berganti nama menjadi Wahyu Soeparno Putro. Prosesi 'hijrah' itu dilakukannya di masjid yang mengumandangkan adzan Subuh dekat rumahnya, yang dulu dianggap telah mengganggu tidurnya.
Red: Budi Raharjo

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/10/08/20/131023-wahyu-soeparno-putro-adzan-subuh-pengganggu-tidurnya

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !
Read More --►

Mengapa Syiah Anti ddngan Sholat Tarawih? Ini Alasannya...


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwt4_gTFPrXYjE1KbS-D79DblY_Q1nyOIZJwaOX_HrCnbkdORlyFDvZryz_gMHdC4gqs_3-L99mG9khTkm5WuJ-4mnsYOzFHhI9hTe4axtRvssCDJ6d10GEMLs-oq2-YJwd82qwKjBN1I/s1600/Pengertian+Shalat+Sunat+Tarawih+di+Bulan+Ramadhan.png

KAUM Syiah mengklaim bahwa shalat tarawih ajaran Umar bin Khatab yang belum pernah ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga tidak heran, bagi orang Syiah, tarawih adalah bid’ah.

Dalam dialog yang ditayangkan video di youtube, ada seorang Syiah bertanya: “Bukankah bulan Ramadhan itu penuh berkah, mengapa Syiah sendiri justru anti-tarawih?”

Salah satu tokoh syiah, Yassir Habib memberikan penjelasan, bahwa jamaah tarawih tidak pernah ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dulu para sahabat pernah shalat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau melarang untuk melaksanakan shalat sunah secara berjamaah.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijPYU2n6cQ4QPAs6voHuG0DmbcrDFhfHnKZbFZk7nR9oM_JBtJ8JBa2TgOus7DAIciqztHbEzXMdBE1tOs-fc4lEjzmOEKB0MgsOfR8YITJSvqJPvEIxXgyyA5RpiBx8zUA6MeEyMuE_H-/s400/sholat+tarawih+4+rakaat+1+salam.jpg

Keterangan ini ada di buku-buku shahih yang dimiliki kelompok mukhalifin (orang yang menyimpang).

Kemudian Yasir juga menegaskan, bahwa yang pertama kali mengadakan jamaah tarawih adalah Umar bin Khattab. Umar mengumpulkan semua orang untuk shalat jamaah di malam hari Ramadhan, di bawah imam Ubay bin Ka’b. Ketika itu ada beberapa orang yang tidak paham mengkritik Umar, “Bid’ah…bid’ah..”

Umar menegaskan: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” sebagai bentuk bantahan atas tuduhan yang dilontarkan kepadanya.

Seperti diketahui, kaum Syiah tidak menyukai para sahabat Nabi kecuali Ali bin Abi Thalib.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !
Read More --►

Jumat, 10 Juni 2016

[Sejarah INDONESIA] Bulan Puasa di Bawah Agresi Militer Belanda

(Sebuah pelabuhan di Jawa Timur terbakar pada agresi militer Belanda pertama, Juli 1947. Foto: KITLV)

BELANDA melancarkan serangan kepada Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat pada 20 Juli 1947 (2 Ramadhan 1366 H). Aksi Polisionil Pertama ini berkode actie product (aksi atau operasi produk), sedangkan pihak Indonesia menyebutnya agresi militer Belanda pertama. Belanda melancarkan agresinya pada awal puasa Ramadan 1366 Hijriyah kemungkinan karena orang Indonesia yang mayoritas Muslim sedang berpuasa sehingga dianggap dalam keadaan lemah.

Sebenarnya, sejak akhir Juni 1947 telah diperkirakan Belanda akan melancarkan serangan dalam waktu dekat. Sehingga, di hari pertama puasa pada 19 Juli 1947, para ulama Aceh dalam rapat umum di pekarangan Mesjid Raya Baiturrahman menyerukan “puasa tidak menghalangi seseorang untuk berjuang. Karena itu sambil berpuasa berjuanglah, dan sambil berjuang berpuasalah.”

“Demikian pesan para ulama yang memanfaatkan mimbar rapat umum tersebut untuk menyampaikan penerangan mengenai kewajiban berpuasa di tengah perjuangan kemerdekaan yang sedang memuncak,” tulis Pramoedya Ananta Toer, dkk., dalam Kronik Revolusi Indonesia 1947.

Residen Aceh, lanjut Pram, juga menyerukan supaya umat Islam di Aceh senantiasa siap-sedia menghadapi segala kemungkinan yang datang sebagai akibat keserakahan Belanda: “Jadikanlah ibadah puasa sebagai jembatan untuk mempertebal iman dan perjuangan. Kita selalu digempur dengan cara besar-besaran oleh tentara Belanda. Jangan disangka kita akan lemah dalam menghadapi mereka karena kita sedang berpuasa. Kita kuat dan tetap kuat menghadapi mereka, kapan saja dan dimana saja.”

Menurut J.A. de Moor, penulis biografi Jenderal Spoor: Kejayaan dan Tragedi Panglima Tentara Belanda Terakhir di Indonesia, dalam agresi ini Spoor mengomando kekuatan tempur sebanyak 96.000 pasukan, 75.000 di Jawa dan 21.000 di Sumatera.

“Agresi militer Belanda I di daerah Sumatera Selatan tepat pada bulan puasa hari ketiga. Aksinya itu dimulai pada pagi hari sesudah umat Islam di daerah Sumatera Seulatan selesai melakukan sahur,” tulis Sejarah Perang Kemerdekaan di Sumatera, 1945-1950.

Sementara itu, tulis de Moor, pihak RI menurut data NEFIS (Dinas Intelijen Militer Belanda) memiliki 195.000 prajurit di Jawa dan Sumatera; sekira 168.000 orang dari “kelompok-kelompok tak teratur” atau kelasykaran; beberapa serdadu Jepang terlibat dalam setidaknya seratus kasus; beberapa pasukan India-Inggris yang memihak Republik; dan sekira sepuluhan orang Jerman namun tak pernah menampakkan diri hanya terdengar suaranya yang keras dan jelas di semak-semak bersama pejuang Republik.

“Dengan keunggulan peralatan beroda, tank dan meriam pasukan itu (Belanda, red) menyerang dari darat, laut, dan udara. Spoor ingin memanfaatkan sepenuhnya keunggulan angkatan bersenjata Belanda dan menyingkirkan TNI dengan ofensif kejutan yang dahsyat,” tulis de Moor.

Pertempuran jelas tak seimbang. Selama operasi, Belanda melakukan 1.039 penerbangan (pengintaian, mendukung artileri dalam mengarahkan penembakan, membombardir berbagai sasaran, mengedrop perbekalan, dan selebaran) di Jawa dan Sumatera. Sementara itu, menurut de Moor, aksi udara lebih lanjut dari Republik –yang memiliki 28 pesawat yang dapat dioperasikan dan beberapa puluh lagi tidak dapat dioperasikan yang diambilalih dari Jepang– tidak dilakukan selama Aksi Polisionil Pertama.

“Pada 24 Juli, Spoor memberikan konferensi pers yang pertama. Dia sesumbar mengenai kemenangan. Dia nyatakan antara lain bahwa TNI begitu cepat enyah hingga pasukan Belanda tidak dapat mengikuti tempo larinya,” tulis de Moor.

Belanda berhasil menduduki Jawa Barat, Jawa Tengah –Yogyakarta, Surakarta dan Kedu di luar tujuan operasi; sebagian Jawa Timur –Bojonegoro, Madiun dan Kediri dalam kekuasaan Republik. Belanda juga menguasai Pantai Timur Sumatera, Pantai Barat Sumatera, dan Palembang. Dengan demikian, daerah-daerah perusahaan perkebunan, tambang, batubara, dan ladang minyak telah kembali ke tangan Belanda. Produksi barang perdagangan terpenting Hindia Belanda (minyak, karet, teh, kopra, dan gula) dapat dimulai lagi. “Hindia Belanda kembali mendatangkan uang. Situasi finansial (Belanda, red) yang gawat kelihatan berakhir,” tulis de Moor. 

Dalam agresi militer ini, Belanda kehilangan 76 tentara tewas dan 206 luka-luka. Korban pihak Indonesia tidak diketahui pasti, tapi ditaksir sekira 10.000 orang tewas. Namun, de Moor mengakui, selagi pertempuran berjalan, dunia luar mulai memusuhi Belanda. Perkembangan ini akan sangat mempengaruhi dan bahkan menentukan jalannya perang, dan juga perkembangan diplomatik. Dewan Keamanan PBB menerima resolusi Australia, bekas sekutu pada masa perang yang sekarang menentang Belanda, menyerukan penghentian segera permusuhan dan diakhirinya konflik dengan cara damai. 

Sumber: historia.id

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !
Read More --►
Energy Saving Mode
Gunakan Mouse untuk Keluar Mode Energy Saving