Mohamad Hartadi

Perempuan, 8 tahun

Kudus, Indonesia

SELAMAT DATANG DI BLOG PERJALANANKU, MY LIFE MY BLOG adalah blog yang menceritakan semua yang saya suka, Inspirasi, dan Motivasi.Selamat bergabung di blog saya, semoga bisa jadi motivasi dan inspirasi bagi anda yang membacanya Semoga Bermanfaat.

Visit My Blog :
=>e-designonline.blogspot.com
=>e-tutorial07.blogspot.com
=>myblogdesign07.blogspot.com
=>matahati09@gmail.com
::
Start
Deswita Alifia D™ Vivi
Shutdown

Navbar bawah

Search This Blog

Tampilkan postingan dengan label Mualaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mualaf. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Juni 2016

Tinju Muhammad Ali yang Robohkan Kemustahilan

 Suatu saat pada pengujung 2001, aktor tenar Will Smith lengkap dengan celana dan sarung tinjunya tampak gagah menghindari pukulan-pukulan jab seorang pak tua. Di hadapannya, pak tua dengan pakaian jas rapi itu terus mendaratkan pukulan ke arah Smith. Lemah, namun pukulannya akurat, meski tangan kirinya tampak bergetar hebat.

Berbeda dengan Smith yang tampak menghindar dengan serius, pak tua terlihat tersenyum bahagia tanpa menghiraukan sorot kamera di sekeliling keduanya. Lelah pukulannya meleset, pak tua bernama Muhammad Ali ini lalu meniup Smith dengan mulutnya.





Fuuuh… seketika, aktor kulit hitam itu langsung roboh. Semua tertawa, termasuk orang-orang di sekitar yang ketika itu sedang hadir dalam konferensi pers pemutaran film berjudul ‘Ali’ Desember 2001 silam.

Demikianlah Ali. Kisah hidupnya mampu menarik minat studio penghasil karya audio visual terbesar dunia, Hollywood, untuk memfilmkannya. Tentu bukan sebuah cerita biasa sehingga Hollywood mau mengangkatnya.

Ali melegenda sebagai petinju asal Amerika Serikat yang punya raihan tiga kali juara dunia di tingkatan paling bergengsi, kelas berat. Ketika pensiun pun, Ali masih sanggup jadi juara sejati di tingkatan yang lebih tinggi, yakni kehidupan sebenarnya.

Ring tinju bukan sekadar  tempat dia menghajar lawan-lawannya. Lebih dari itu, Ali menjadikan arena baku pukul sebagai kendaraan baginya melawan tirani terhadap bangsanya. Yaitu, rakyat Amerika bahkan dunia yang ditakdirkan berkulit hitam.





Dilahirkan 17 Januari 1942, Ali mulai menyadari ketika beranjak remaja betapa mengerikan nasib yang harus diterima orang kulit hitam. Saat itu, wilayah tempat tinggalnya di Kentucky sangat tak aman bagi dia yang berkulit gelap. Saban hari, Ali kerap terlibat keributan dengan orang-orang kulit putih yang meremehkan dirinya.

Hingga suatu ketika kabar tentang dimutilasinya seorang remaja kulit hitam berumur 14 tahun oleh kelompok radikal antikulit hitam Amerika, Klu Klux Klan (KKK) jadi puncak kecemasan Ali. Kisah yang jadi headline dunia pemberitaan saat itu menginspirasi Ali untuk bisa melindungi diri dan bangsanya dengan belajar tinju.

Terlebih, ketika itu dia juga sempat mendapat perlakuan mengesalkan saat sepedanya dicuri ketika menyaksikan sebuah acara di Columbia Auditorium pada  1954.

Ali yang saat itu masih menyandang nama lahir Cassius Marcellus Clay Jr lalu merintis langkahnya dengan memasuki sasana yang memfasilitasi pada dunia tinju amatir.  Sasana milik seorang anggota kepolisian, Joe Martin, itu pun jadi awal sejarah terlahirnya petinju terbesar sepanjang sejarah.

Seperti yang sudah tersaji dalam ragam literatur, Ali sanggup jadi petinju yang paling disegani hanya dalam waktu kurang dari lima tahun. Menyandang nama baru, Muhammad Ali ketika jadi juara dunia pada usia 22 tahun, tak butuh waktu lama pula baginya untuk bertransformasi dari petinju disegani menjadi sosok dihormati.





Jalan sang mualaf untuk meniadakan sekat antara si hitam dan si putih lalu terbuka lebar ketika justru dia dilarang bertinju selama tiga tahun. Haknya yang dicabut karena menolak ikut wajib militer semasa Amerika berperang melawan Vietnam dekade 1960 berujung di jeruji besi.

Tak disangka, Ali yang tak pernah lelah menyatakan diri sebagai ‘The Greatest’ di hadapan orang-orang kulit putih justru mendapat dorongan moral luas. Bukan hanya dari bangsa kulit hitam. Saat itu, ribuan mahasiswa kulit putih Howard University menuntut hak Ali dikembalikan.

Tahun 1971, pemerintah Amerika tunduk kepada gugatan konstitusi yang dilayangkannya. Ali lalu kembali ke ring tinju dan terus berjuang menegaskan tonggak kehebatan kulit hitam sebagai ras yang setara.

Keberhasilan Ali menaklukkan ragam pandangan diskriminasi hingga kerangkeng larangan dari negara jadi awal terhapusnya praktek diskriminasi yang sebelumnya sangat parah di Amerika. Paman Sam mulai membuka pintu dan akses luas bagi seluruh kulit hitam untuk mendapatkan kesetaraan.

Suatu hal yang sebelumnya, selama ratusan tahun sejak Amerika berdiri 4 Juli 1776 mustahil untuk diwujudkan. Sejak saat itu, Ali tak hanya dipandang sebagai olahragawan fenomenal berkulit hitam, namun lebih dari itu. Ali menabsihkan diri sebagai agen perubahan dunia yang sukses merobohkan kemustahilan dengan tinjunya.

“Mustahil hanyalah sebuah rangkaian kata yang tampak besar di antara orang-orang kerdil yang seharusnya mengeksplorasi kekuatan mereka untuk mengubah kemustahilan itu. Mustahil bukanlah sebuah fakta, tapi tak lebih dari sekedar opini. Mustahil bukan hasil dari sebuah deklarasi. Di dalamnya justru ada keberanian. Mustahil itu sementara. Mustahil itu sebenarnya sama sekali tidak ada,” ucap Ali tentang semua anggapan rasa mustahil yang terbukti bisa dirobohkannya.

Kini Ali telah tiada setelah Sang Pencipta memanggilnya 4 Juni 2016. Jenazahnya pun telah dikebumikan di tanah kelahirannya, Kentucky.  Smith yang dulu memerankan sosok Ali dalam film pun tak menampik besarnya perubahan yang ayah dari Laila Ali itu perbuat semasa hidup.

“Engkau telah mengguncang dunia. Mentorku, temanku. Kau mengubah hidup kami. Sekarang, beristirahatlah dengan tenang,” kata aktor yang Februari lalu memboikot penghargaan Oscar 2016 karena dinilai bernuansa rasialis.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !
Read More --►

Wahyu Soeparno Putro: Adzan Subuh Pengganggu Tidurnya


Wajahnya kerap muncul di televisi di Indonesia. Dia terbilang sukses membawakan sebuah acara bertemakan religi. Selama ini dia lebih dikenal dengan nama 'Indonesia'-nya, Wahyu Soeparno Putro.

Tak banyak yang mengetahui siapa nama asli, pria kelahiran Skotlandia pada 28 Juli 1963 ini. Meski terlahir di tanah Skotlandia, dia mengaku sejak kecil telah menjadi penganut Budha. Orangtuanya memberi nama, Dale Andrew Collins-Smith. Menghabiskan kulian di tanah Australia, Dale mengawali kisah hidupnya di Indonesia ketika bekerja di sebuah perusahaan kerajinan di Yogyakarta pada 1999.

Sebagai seorang yang terbiasa mandiri karena pada usia 20 tahun telah menjadi yatim-piatu, Dale harus menghadapi kehidupan dengan tradisi yang jauh berbeda dengan asal-usulnya. Seperti ketika dia harus mendengarkan suara adzan yang berkumandan setiap hari dari masjid yang letaknya berdekatan dengan tempat tinggalnya di kota gudeg itu.

Awalnya, dia begitu terganggu dengan suara adzan, khususnya Adzan Subuh. Seakan tak mau terganggu, adzan itu begitu mengusik kenyamanan tidurnya. Adzan itu seperti menggedor-gedor gendang telinganya. Selama tinggal di Skotlandia dan Australia, dia tak pernah mendapatkan situasi seperti itu.

Dale tinggal di rumah seorang warga Yogya bernama Soeparno. Ayah beranak lima yang bekerja sebagai satpam itu sudah menganggap Dale sebagai anaknya sehingga dibebaskan untuk tinggal dirumahnya. Karena setiap hari mendengarkan suara adzan Subuh itu, Dale kemudian menjadi terbiasa mendengarkannya. Bahkan, karena itu dia berubah menjadi kerap terbangun di pagi hari.





Tak hanya itu, setelah menetap cukup lama di rumah itu, Dale terbiasa bangun 5-10 menit lebih awal dari adzan Subuh. ''Ini yang membuat saya heran,'' katanya. ''Padahal sejak kecil saya tak pernah bisa bangun pagi, tapi di sana (Yogyakarta) saya mampu merubah pola hidup saya untuk bangun pagi.''

Suara adzan itu tampaknya menjad awal pertemuannya dengan Islam. Perlahan hidayah itu merasuk ke dalam jiwanya. Dia pun mulai bertanya-tanya tentang Islam. Diawali dengan pertanyaan sederhana seperti mengenai sholat dan puasa. Tanpa malu, dia menanyakan itu kepada teman-teman Muslim-nya. Di saat Ramadhan, Dale mulai ikut-ikutan berpuasa. ''Awalnya saya cuma ingin mengetahui saja seperti apa sih rasanya puasa,'' tuturnya. ''Tetapi setelah tahun ke dua atau ketiga di sana, puasa saya ternyata bisa full.

Rutinas bangun pagi sebelum sholat Subuh dan puasa Ramdhan yang mulai terbangun dalam dirinya ternyata memberikan perasaan tenang bagi dia. Perasaan itu menjalar terus dalam dirinya. ''Saat itu saya merasa seperti sudah sangat dekat saja dengan orang-orang di sekitar saya,'' katanya sambil mengaku pada fase tersebut dia sudah semakin fasih berbicara Indonesia.

Tak merasa cukup terjawab tentang Islam pada rekan sepergaulan, Dale kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada ketua pengurus masjid dekat tempatnya tinggal. Tapi sekali lagi, hasratnya untuk mengetahui Islam masih belum terpuaskan. Maka pada suatu ketika, bertemulah dia dengan seorang ustadz bernama Sigit. Ustadz ini masih berada satu kampung dengan tempat tinggalnya di kediaman Soeparno. ''Waktu saya ceritakan tentang pengalaman saya, dia malah berkata kepada saya,'Sepertinya malaikat mulai dekat dengan kamu','' kata Dale menirukan ucapan Pak Sigit.

Mendengar ucapan itu, Dale merasakan seperti ada yang meledak-ledak di dalam dirinya. ''Semuanya seperti jatuh ke tempatnya,'' kata dia menggambarkan situasi emosional dirinya ketika itu. ''Saat itu saya juga sudah bisa menangkap secara akal sehat tentang Islam,'' tambahnya. Ledakan yang ada di dalam diri itu kemudian membawa Dale terus menjalin hubungan dengan Pak Sigit. Dari sosok ustadz itu, dia mengaku mendapatkan sebuah buku tentang Islam dan muallaf. Dan pada saat itu pula, niatnya untuk mempelajari sholat kian menggelora.

Di saat dirinya merasa semakin menuju Islam, pria yang begitu berharap bisa menjadi warga negara Indonesia ini kemudian bertanya pada Soeparno. ''Saya merasa lucu karena sudah seperti merasa Muslim,'' kata dia kepada ayah angkatnya itu. ''Tetapi bagaimana caranya,'' sambung dia. Mendengar ucapan pria bule, Soeparno sangat terkejut. Lantas lelaki ini menyarankan agar Dale masuk Islam saja melalui bantuan Pak Sigit.

Tidak membutuhkan waktu lama, medio 1999, Dale Andrew Collins-Smith kemudian mengucapkan syahadat sekaligus berganti nama menjadi Wahyu Soeparno Putro. Prosesi 'hijrah' itu dilakukannya di masjid yang mengumandangkan adzan Subuh dekat rumahnya, yang dulu dianggap telah mengganggu tidurnya.
Red: Budi Raharjo

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/10/08/20/131023-wahyu-soeparno-putro-adzan-subuh-pengganggu-tidurnya

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !
Read More --►
Energy Saving Mode
Gunakan Mouse untuk Keluar Mode Energy Saving