Mohamad Hartadi

Perempuan, 8 tahun

Kudus, Indonesia

SELAMAT DATANG DI BLOG PERJALANANKU, MY LIFE MY BLOG adalah blog yang menceritakan semua yang saya suka, Inspirasi, dan Motivasi.Selamat bergabung di blog saya, semoga bisa jadi motivasi dan inspirasi bagi anda yang membacanya Semoga Bermanfaat.

Visit My Blog :
=>e-designonline.blogspot.com
=>e-tutorial07.blogspot.com
=>myblogdesign07.blogspot.com
=>matahati09@gmail.com
::
Start
Deswita Alifia D™ Vivi
Shutdown

Navbar bawah

Search This Blog

Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Juni 2016

Tiga Golongan Yang Pertama Kali Masuk Neraka


http://utility-share.blogspot.com/2015/01/riwayat-nabi-akan-peringatan-neraka-jahanam.html

نَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يَنْزِلُ إِلَى الْعِبَادِ لِيَقْضِيَ بَيْنَهُمْ، وَكُلُّ أُمَّةٍ جَاثِيَةٌ، فَأَوَّلُ مَنْ يَدْعُو بِهِ رَجُلٌ جَمَعَ الْقُرْآنَ، وَرَجُلٌ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ كَثِيرُ الْمَالِ، فَيَقُولُ اللَّهُ لِلْقَارِئِ: أَلَمْ أُعَلِّمْكَ مَا أَنْزَلْتُ عَلَى رَسُولِي؟ قَالَ: بَلَى يَا رَبِّ، قَالَ: فَمَاذَا عَمِلْتَ فِيمَا عُلِّمْتَ؟ قَالَ: كُنْتُ أَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: كَذَبْتَ، وَتَقُولُ لَهُ الْمَلَائِكَةُ: كَذَبْتَ، وَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ: إِنَّ فُلَانًا قَارِئٌ، وَقَدْ قِيلَ ذَاكَ.
وَيُؤْتَى بِصَاحِبِ الْمَالِ، فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: أَلَمْ أُوَسِّعْ عَلَيْكَ، حَتَّى لَمْ أَدَعْكَ تَحْتَاجُ إِلَى أَحَدٍ؟ قَالَ: بَلَى، يَا رَبِّ، قَالَ: فَمَاذَا عَمِلْتَ فِيمَا آتَيْتُكَ؟ قَالَ: كُنْتُ أَصِلُ الرَّحِمَ، وَأَتَصَدَّقُ، فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: كَذَبْتَ، وَتَقُولُ لَهُ الْمَلَائِكَةُ: كَذَبْتَ، وَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ: فُلَانٌ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ ذَاكَ.
ثُمَّ يُؤْتَى بِالَّذِي قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: فِي مَاذَا قُتِلْتَ؟ فَيَقُولُ: أُمِرْتُ بِالْجِهَادِ فِي سَبِيلِكَ، فَقَاتَلْتُ حَتَّى قُتِلْتُ، فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ: كَذَبْتَ، وَتَقُولُ لَهُ الْمَلَائِكَةُ: كَذَبْتَ، وَيَقُولُ اللَّهُ: بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ: فُلَانٌ جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ ذَاكَ، ثُمَّ ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رُكْبَتِي، فَقَالَ: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، أُولَئِكَ الثَّلَاثَةُ أَوَّلُ خَلْقِ اللَّهِ تُسَعَّرُ بِهِمْ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ))

“Sesungguhnya Allah yang Maha tinggi dan Maha suci akan turun kepada hamba pada Hari Kiamat untuk memberikan keputusan di antara mereka. Dan setiap umat dalam kondisi berlutut. Kemudian orang yang pertama kali dipanggil adalah orang yang menghafal Al-Qur`an, orang yang terbunuh di jalan Allah, dan orang yang banyak harta.

Maka Allah  berkata kepada sang qari` (orang yang biasa membaca Al-Qur`an):

‘Tidakkah Kuajarkan kepadamu apa yang saya turunkan kepada RasulKu?’ 

Dia menjawab:

‘Benar wahai Tuhanku’.

Allah  berkata lagi:

‘Apa yang kamu perbuat terhadap apa yang sudah kamu ketahui itu?’

Dia menjawab:

‘Saya menjalankannya sepanjang malam dan sepanjang siang’.

Maka Allah  berkata: 

‘Kamu telah berdusta’. 

Dan para Malaikat berkata kepadanya: ‘Kamu telah berdusta’.

Kemudian Allah  berkata kepadanya: 

‘Justru kamu melakukan hal itu dengan maksud agar dikatakan: Si fulan adalah qari`’. Dan hal itu telah dikatakan kepadamu.

Kemudian didatangkan orang yang mempunyai banyak harta. 

Allah  berkata kepadanya:

‘Tidakkah sudah Kulimpahkan harta kepadamu hingga kamu tidak membutuhkan siapa pun?’.

Orang itu menjawab:

‘Benar wahai Rabbku’.

Allah  bertanya lagi:

‘Apa yang kamu kerjakan terhadap harta yang Kuberikan kepadamu itu?’.

Dia menjawab:

‘Saya menggunakannya untuk menyambung silaturrahmi dan bersadaqah’.

Allah  berkata kepadanya: 

Kamu telah berdusta’. 

Para Malaikat juga berkata kepadanya: ‘Kamu telah berdusta’. 

Kemudian Allah  berkata:

‘Justru kamu melakukan itu dengan maksud agar dikatakan: Si Fulan adalah lelaki yang dermawan’. Dan hal itu sudah dikatakan kepadamu.

http://utility-share.blogspot.com/2015/01/riwayat-nabi-akan-peringatan-neraka-jahanam.html

Kemudian didatangkan orang yang terbunuh di jalan Allah. 

Maka Allah berkata:

‘Dalam rangka apa kamu terbunuh?’.

Dia menjawab:

‘Saya diperintah berjihad di jalan Engkau. Maka saya berperang hingga terbunuh’.

Allah  berkata kepadanya:

‘Kamu telah berdusta’. 

Para Malaikat juga berkata kepadanya:

‘Kamu telah berdusta’. Allah  berkata: ‘Justru kamu melakukan itu agar dikatakan kepadamu: Si Fulan adalah pemberani’. Dan hal itu telah dikatakan kepadamu.

Kemudian Rasulullah saw menepuk kedua lututku sambil berkata: ‘Wahai Abu Hurairah! Ketiga golongan itu adalah makhluk yang pertama kali Neraka dinyalakan untuk mereka pada Hari Kiamat’.”

Al-Walid Abu Utsman Al-Madaini berkata: Uqbah bin Muslim memberitahu saya bahwa Syufai inilah yang masuk kepada Muawiyah radhiyallahu anhu kemudian memberitahunya Hadis tersebut.

Abu Utsman berkata: Al-Ala` bin Abi Hakim memberitahu saya bahwa dirinya dahulu seorang algojo Muawiyah. Kemudian seorang lelaki masuk kepada Muawiyah dan memberitahu Hadis ini dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Maka Muawiyah berkata:

((قَدْ فُعِلَ بِهَؤُلَاءِ هَذَا، فَكَيْفَ بِمَنْ بَقِيَ مِنْ النَّاسِ؟!))

“Orang-orang itu telah diperbuat terhadap mereka hal ini. Maka bagaimanakah para manusia yang lain?!”
            Kemudian Muawiyah menangis dengan sangat keras. Hingga kami menduga ia akan meninggal. Lalu kami berkata: “Orang ini[1] telah membawa keburukan kepada kami.”Kemudian Muawiyah sadarkan diri. Ia mengusap wajahnya lalu berkata: Maha benar Allah  ketika berfirman:

{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ } [هود: 15، 16]

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di Akhirat, kecuali Neraka dan lenyaplah di Akhirat apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Huud: 15-16)[2]

[1] Yakni orang yang memberitahukan Hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. (pen)
[2] HR. At-Tirmidzi dalam Sunannya, no. 2304

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !
Read More --►

Anak Ke Masjid Malah Jadi Fitnah Bagi Orang Tuanya


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhMmMAS6McSs37v1o2E8PfRef_11R4ItUziI7O_vrdKqw8KikabXNFxhwKx84naIHfYbc23PULMCpvdPV7gQqcx3AywfqjpIGW3w3EhyphenhyphenIhTNz0YowmLuje-CwZDp0QtZ1ykJreaYCvUwk0E/s1600/jj.jpg

“BEUUH, Bubuuuu eta masjid jadi taman kanak-kanak sekarang, yang ngelangkahin orang shalat, yang ngejerit jerit, yang nangis… sampai imam gak kedengeran….si ayahnya jadi males tharawih di masjid malah teu paruguh,” kata seorang teman saya.

“Hehehe, itu fenomena tahunan. Dari zaman kita kecil juga gitu. Anak-anak pada seneng ke masjid. Bukan mau shalat tapi mau main, kayak gak pernah gitu aja…” kata saya sambil tertawa.

“Iya… tapi kayaknya kita dulu kalau udah di-sttttttt sambil melotot gitu udah pada mengkeret Bubu, anak sekarang mah dilarang malah makin jadi,” sungutnya.

“Iyaa… anak sekarang gitu, orangtuanya juga gitu,” tukas saya. “Aku jadi inget nih, kemarin temenku cerita. Jadi di komplek perumahannya ada ustadz yang ngajar anak-anak ngaji, masih muda. Nah adalah anak yang emang tukang bikin onar, bikin berisik, lari-lari pas orang shalat. Itu tuh udah kelas 4 SD, dilarang halus gak mempan, dikerasin, gak ngaruh, dibentak gak kapok, akhirnya dipukul pakai penggaris yang buat belajar ngaji.

“Mukulnya juga bukan mukul gimana nepuk dikit doang. Eh, si anak ngadu ke orangtuanya. Bapaknya datang ke masjid, nempeleng ustadz di depan orang banyak. Kata anak-anak ustadznya nangis. Itu orangtuanya rupanya gak suka ke masjid, anaknya aja yang ke masjid. Akhirnya niat ngajar anak malah jadi fitnah,” cerita saya.

“Ih Bubu, gak beradab amat orang tuanya… Itu ustadz anaknya,” kata teman saya terkejut.

“Emberan cyiiin… serba salah kan? Kalau kita tegur anak-anak nanti dibilang gak ngajarin anak-anak suka ke masjid, gak ngedukung anak-anak belajar memakmurkan masjid, bikin anak-anak trauma ke masjid. Ya gitu-gitu deh…. tapi gak sadar dengan begitu bikin kadang banyak orang dewasa karena ngerasa keganggu shalatnya jadi malas ke masjid. Akhirnya masjid berubah fungsi, akhirnya bukan memakmurkan malah membubarkan. Kalau emang mau ngajarin anak suka ada di masjid, suka memakmurkan masjid, kita orang tuanya juga musti ngasih contoh.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgxcY7py9aQCkAw0WQEkSU2WB7HKRk1ZalvuOJM0lrzLuiF1_qdT7z8YppBECAnUhFgg9kMP_umU6ywTHacXUZta_ceml7nA1LdOBYjgUQVJDZUbu112DM_E0cXznK34wJUCGLJqeb-UXB0/s1600/anak-sholat-di-masjid.jpg

“Ini anaknya pergi ke masjid, ibu bapaknya nyantai di rumah. Sekalinya anak didampingi, yang ngedampingi asisten rumah tangga, sampai masjid asisten tumah tangganya ngumpul sama teman-temannya ngerumpi, main gadget, anaknya melalanglang buana entah kemana.

“Kalau aku waktu anakku kecil-kecil, karena anakku laki-laki semua, anakku gak ke masjid kalau gak sama ayahnya atau ada orang dewasa yang bersedia dititipi mengawasi. Anak boleh main dengan teman-temannya sebelum shalat dan ketika bubaran masjid 10 menit, tapi ketika shalat harus shalat di samping ayahnya atau orang dewasa yang dititipin. Kadang aku beres shalat tharawih di rumah aku ke masjid buat pantau anak-anak dari jauh buat memastikan.

“Kalau anak kita gak bisa dikendalikan, ajak pulang, lanjutkan shalat dirumah kan bisa. Besok kalau mau ke masjid lagi perjanjian dulu sama anaknya. Itu baru namanya ngedidik kalau menurutku. Kita juga jadi orang dewasa jangan egois, orang lain juga mau ibadah.

“Kadang mereka itu melangkah-melangkah di tempat sujud orang, mungkin setiap mau mulai shalat imam, orangtua, orang dewasa harus ngasih tau anak-anak kalau melangkah di tempat sujud orang itu dosa, kan ada dalilnya, ‘Andaikan seseorang yang lewat di depan orang yang shalat itu mengetahui dosanya perbuatan itu, niscaya diam berdiri selama 40 tahun itu lebih baik baginya dari pada lewat’,’ (HR. Al Bukhari, HR.Muslim),” papar saya panjang lebar.

“Iya Bubu, kadang orangtuanya ada juga orang tuanya cuek aja, bilangnya: ‘Yaa.. namanya juga anak-anak,’ gitu melulu ngomongnya. Lah dia sebagai orang tua fungsinya apa?” teman saya gusar.

“Yaa… susah, kita ada di lingkungan ya beda-beda sikap, beda tingkah laku, beda pikiran. Kita urus aja dulu anak-anak kita ngedidik mereka buat belajar memakmurkan masjid dengan tidak dzalim sama hak orang lain. Butuh kesadaran diri sebagai orang tua, sebagai masyarakat. Mudah-mudahan kalau kita ngedidik anak bener bisa jadi teladan buat temen-temennya,” kata saya.

“Iya ya…. kalau kita gak ngebesarin rasa maklum malah makin rugi, sudah ibadah kita rusak, kena dosa mengumpat, tekor deh…” timpal teman saya.

Kami pun tertawa bersama. Semoga Allah tuntun kami mendidik anak anak kami menjadi generasi rabbani, generasi yang cinta memakmurkan masjid tanpa mendzalimi hak orang lain.
Bismillah…..


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !
Read More --►

Minggu, 12 Juni 2016

Kisah Marbot Masjid Alumni IPB Mengenalkan Islam di Ceko


[portalpiyungan.com] Ceko adalah salah satu Negara terindah dan menawan di Eropa. Bahkan banyak yang mengatakan bahwa Paris pun kalah menawan dengannya.

Suatu sore di Februari 2016, lantunan ayat suci Alquran terdengar dari sebuah apartemen di Praha, Republik Ceko yang atheis. Pelantunnya, dua pria Ceko Peter Brejcha dan Cristoff. Keduanya telah 4 tahun menjadi mualaf.

Peter dan Christoff belajar Alquran dari seorang Warga Negara Indonesia, Akhir Pebriansyah. Akhir merupakan mahasiswa S3 di Chechz University of Life Science, universitas pertanian terbesar di Ceko. Ia tengah menempuh program doktor di jurusan Pengolahan Makanan. Pria berusia 27 tahun ini juga merangkap sebagai guru ngaji bagi rekan-rekannya warga asli Ceko.


Tak hanya mengajarkan cara membaca Alquran, Akhir juga menjadi tempat bertanya dan berdiskusi rekan-rekannya warga Ceko tentang Islam. Tak heran, jika bagi kawan-kawannya, Akhir sudah seperti keluarga. “Saya sudah mengenal Akhir sejak sekitar dua tahun lalu, kami menikmati pertemanan ini. Dia teman yang baik, dia suka menolong teman-teman muslim. Dia laki-laki yang baik,” tutur Peter Brejcha tentang Akhir.

Sementara bagi Akhir, mengenalkan Islam kepada warga Ceko, memiliki tantangan tersendiri, “Mereka berpikir sangat logis, mereka tidak langsung menerima. Kenapa kita makan pakai tangan kanan, harus jelaskan secara ilmiah, secara logika. Kedua kendala bahasa, itu sangat berat bagi saya.”

Selain mengajar mengaji kepada warga Ceko, Akhir ternyata juga merupakan sosok yang memelopori pengajian Warga Negara Indonesia yang bermukim di Ceko. Ia didaulat perkumpulan WNI untuk menjadi pembimbing mereka dalam menimba ilmu tentang Islam di Praha. Sekitar 30 WNI rutin berkumpul setiap minggu untuk mengaji. Pengajian diikuti dewasa maupun anak-anak. Lewat pengajian, mereka tidak hanya menambah ilmu, namun juga tumbuh menjadi sebuah keluarga besar. Dan ini semua terwujud berkat seorang Akhir Pebriansyah, pemuda yang ikhlas berjuang dengan caranya, demi Islam di Praha.

(Akhir Pebriansyah)

Akhir Pebriansyah merupakan alumni IPB (Institut Pertanian Bogor) Fakultas Peternakan 2007.

Beliau pernah menjadi seorang Marboth (penjaga Masjid) di Masjid Al Hurriyyah Kampus IPB Dramaga. Selain itu beliau juga aktif dalam kegiatan Lembaga Dakwah Kampus Al Hurriyyah IPB dan Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Indonesia (FSLDK).

Perjuangan beliau untuk meneruskan kuliah disana tidaklah mudah. Melalui beberapa seleksi yang sulit, namun ternyata Allah lebih memilih beliau diantara lainnya. Beliau memang aktif dalam dunia paper, organisasi dan bahasa inggris aktif. (Mukhamad Najib)

Kisah dakwah Akhir Pebriansyah ditayangkan NET TV pada Sabtu (11/6/2016) lalu.

Lihat Videonya:


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !
Read More --►

Sabtu, 11 Juni 2016

Tinju Muhammad Ali yang Robohkan Kemustahilan

 Suatu saat pada pengujung 2001, aktor tenar Will Smith lengkap dengan celana dan sarung tinjunya tampak gagah menghindari pukulan-pukulan jab seorang pak tua. Di hadapannya, pak tua dengan pakaian jas rapi itu terus mendaratkan pukulan ke arah Smith. Lemah, namun pukulannya akurat, meski tangan kirinya tampak bergetar hebat.

Berbeda dengan Smith yang tampak menghindar dengan serius, pak tua terlihat tersenyum bahagia tanpa menghiraukan sorot kamera di sekeliling keduanya. Lelah pukulannya meleset, pak tua bernama Muhammad Ali ini lalu meniup Smith dengan mulutnya.





Fuuuh… seketika, aktor kulit hitam itu langsung roboh. Semua tertawa, termasuk orang-orang di sekitar yang ketika itu sedang hadir dalam konferensi pers pemutaran film berjudul ‘Ali’ Desember 2001 silam.

Demikianlah Ali. Kisah hidupnya mampu menarik minat studio penghasil karya audio visual terbesar dunia, Hollywood, untuk memfilmkannya. Tentu bukan sebuah cerita biasa sehingga Hollywood mau mengangkatnya.

Ali melegenda sebagai petinju asal Amerika Serikat yang punya raihan tiga kali juara dunia di tingkatan paling bergengsi, kelas berat. Ketika pensiun pun, Ali masih sanggup jadi juara sejati di tingkatan yang lebih tinggi, yakni kehidupan sebenarnya.

Ring tinju bukan sekadar  tempat dia menghajar lawan-lawannya. Lebih dari itu, Ali menjadikan arena baku pukul sebagai kendaraan baginya melawan tirani terhadap bangsanya. Yaitu, rakyat Amerika bahkan dunia yang ditakdirkan berkulit hitam.





Dilahirkan 17 Januari 1942, Ali mulai menyadari ketika beranjak remaja betapa mengerikan nasib yang harus diterima orang kulit hitam. Saat itu, wilayah tempat tinggalnya di Kentucky sangat tak aman bagi dia yang berkulit gelap. Saban hari, Ali kerap terlibat keributan dengan orang-orang kulit putih yang meremehkan dirinya.

Hingga suatu ketika kabar tentang dimutilasinya seorang remaja kulit hitam berumur 14 tahun oleh kelompok radikal antikulit hitam Amerika, Klu Klux Klan (KKK) jadi puncak kecemasan Ali. Kisah yang jadi headline dunia pemberitaan saat itu menginspirasi Ali untuk bisa melindungi diri dan bangsanya dengan belajar tinju.

Terlebih, ketika itu dia juga sempat mendapat perlakuan mengesalkan saat sepedanya dicuri ketika menyaksikan sebuah acara di Columbia Auditorium pada  1954.

Ali yang saat itu masih menyandang nama lahir Cassius Marcellus Clay Jr lalu merintis langkahnya dengan memasuki sasana yang memfasilitasi pada dunia tinju amatir.  Sasana milik seorang anggota kepolisian, Joe Martin, itu pun jadi awal sejarah terlahirnya petinju terbesar sepanjang sejarah.

Seperti yang sudah tersaji dalam ragam literatur, Ali sanggup jadi petinju yang paling disegani hanya dalam waktu kurang dari lima tahun. Menyandang nama baru, Muhammad Ali ketika jadi juara dunia pada usia 22 tahun, tak butuh waktu lama pula baginya untuk bertransformasi dari petinju disegani menjadi sosok dihormati.





Jalan sang mualaf untuk meniadakan sekat antara si hitam dan si putih lalu terbuka lebar ketika justru dia dilarang bertinju selama tiga tahun. Haknya yang dicabut karena menolak ikut wajib militer semasa Amerika berperang melawan Vietnam dekade 1960 berujung di jeruji besi.

Tak disangka, Ali yang tak pernah lelah menyatakan diri sebagai ‘The Greatest’ di hadapan orang-orang kulit putih justru mendapat dorongan moral luas. Bukan hanya dari bangsa kulit hitam. Saat itu, ribuan mahasiswa kulit putih Howard University menuntut hak Ali dikembalikan.

Tahun 1971, pemerintah Amerika tunduk kepada gugatan konstitusi yang dilayangkannya. Ali lalu kembali ke ring tinju dan terus berjuang menegaskan tonggak kehebatan kulit hitam sebagai ras yang setara.

Keberhasilan Ali menaklukkan ragam pandangan diskriminasi hingga kerangkeng larangan dari negara jadi awal terhapusnya praktek diskriminasi yang sebelumnya sangat parah di Amerika. Paman Sam mulai membuka pintu dan akses luas bagi seluruh kulit hitam untuk mendapatkan kesetaraan.

Suatu hal yang sebelumnya, selama ratusan tahun sejak Amerika berdiri 4 Juli 1776 mustahil untuk diwujudkan. Sejak saat itu, Ali tak hanya dipandang sebagai olahragawan fenomenal berkulit hitam, namun lebih dari itu. Ali menabsihkan diri sebagai agen perubahan dunia yang sukses merobohkan kemustahilan dengan tinjunya.

“Mustahil hanyalah sebuah rangkaian kata yang tampak besar di antara orang-orang kerdil yang seharusnya mengeksplorasi kekuatan mereka untuk mengubah kemustahilan itu. Mustahil bukanlah sebuah fakta, tapi tak lebih dari sekedar opini. Mustahil bukan hasil dari sebuah deklarasi. Di dalamnya justru ada keberanian. Mustahil itu sementara. Mustahil itu sebenarnya sama sekali tidak ada,” ucap Ali tentang semua anggapan rasa mustahil yang terbukti bisa dirobohkannya.

Kini Ali telah tiada setelah Sang Pencipta memanggilnya 4 Juni 2016. Jenazahnya pun telah dikebumikan di tanah kelahirannya, Kentucky.  Smith yang dulu memerankan sosok Ali dalam film pun tak menampik besarnya perubahan yang ayah dari Laila Ali itu perbuat semasa hidup.

“Engkau telah mengguncang dunia. Mentorku, temanku. Kau mengubah hidup kami. Sekarang, beristirahatlah dengan tenang,” kata aktor yang Februari lalu memboikot penghargaan Oscar 2016 karena dinilai bernuansa rasialis.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !
Read More --►
Energy Saving Mode
Gunakan Mouse untuk Keluar Mode Energy Saving